Mempelajari Cara Kerja Alam Semesta

mereka dapat berpikir tentang dunia layaknya orang dewasa untuk pertama kalinya, mereka haus akan pengetahuan tentang dunia ini, sebagian besar mereka bertanya, bagaimana cara kerja dunia baru yang besar dan indah ini, apa saja aturan yang berlaku

Ada satu momen yang biasanya muncul diam-diam saat anak-anak mulai beranjak besar. Tiba-tiba saja, mereka tidak lagi cuma mengangguk terima saat kita bilang langit itu biru atau es itu mencair. Mata mereka mulai memicing menyelidik. Mereka mulai membongkar mainan mekaniknya sampai rusak, mengamati tetesan embun di luar gelas dingin, atau diam-diam mencampur sabun dan berbagai bahan di dapur.

Di fase inilah mereka mulai benar-benar mempelajari cara kerja alam semesta. Mereka dapat berpikir tentang dunia layaknya orang dewasa untuk pertama kalinya, mereka haus akan pengetahuan tentang dunia ini, sebagian besar mereka bertanya, bagaimana cara kerja dunia baru yang besar dan indah ini, apa saja aturan yang berlaku?

Mereka baru saja menyadari bahwa hal-hal di sekeliling mereka tidak digerakkan oleh sihir atau kebetulan, melainkan oleh pola dan logika. Pikiran mereka sedang mekar, menuntut pembuktian nyata dan bukan sekadar hafalan.

Sayangnya, saat menghadapi kehausan ini, insting kita sebagai orang dewasa sering kali keliru. Kita terlalu sibuk menyuapi mereka dengan jawaban instan dari kepala kita, atau malah mengomel karena mereka membuat ruangan berantakan. Padahal, bagi mereka, benda-benda rumah tangga sehari-hari adalah alat penelitian yang serius. Sebuah meja yang tadinya hanya tempat menaruh buku, kini disulap menjadi sebuah lab kecil di ujung meja—tempat mereka membuktikan sendiri hukum sebab-akibat.

Jadi, ketika mereka datang membawa sebuah pertanyaan besar tentang hal-hal di sekitarnya, cobalah tahan dorongan untuk langsung bertindak layaknya kamus berjalan. Tersenyumlah, dan lemparkan pertanyaannya kembali dengan hangat: "Wah, menarik ya. Kalau menurut kamu sendiri, kenapa bisa begitu?"

Biarkan mereka menebak dan meraba-raba logikanya. Biarkan mereka merasa menjadi seorang penemu sungguhan. Sebab, justru melalui obrolan-obrolan sederhana seperti itulah kita sedang menjaga nyala rasa ingin tahu mereka agar terus hidup.

 
 

157 tBC
156